Jumat, 29 April 2016

NGGAK LULUS TEPAT WAKTU? UPS!

            





         Apa lu termasuk mahasiswa yang berhasil lulus tepat waktu dari sebuah perguruan tinggi? Kalau iya, selamat! Apa lu termasuk mahasiswa yang berhasil lulus bahkan lebih singkat dari masa studi normal akademik? Kalau iya, selamat, selamat! Apa lu termasuk mahasiswa yang berhasil lulus dengan waktu yang lebih singkat plus menyandang predikat cumlaude? Kalau iya, wow..selamat, selamat, selamat! Lu adalah orang hebat idaman setiap kampus, sob! Eh, tapi kalau bukan, apa lu termasuk mahasiswa yang udah melampaui masa studi tapi belum lulus? Kalau iya, nggak apa-apa kok.. Apa lu udah nerima surat peringatan keras atau bahkan ancaman untuk drop out? Ayo, lu pasti bisa!  Selama lu mau, lu pasti masih dikasih kesempatan kok buat menyelesaikannya.

        Boleh dikata, tulisan ini gue buat karena kegelisahan gue sendiri. Gue adalah mahasiswa pascasarjana yang saat ini terdaftar sebagai salah satu mahasiswa Program Sinergi (nama lainnya Fast track), dimana tujuan awalnya adalah mengirit waktu dan biaya karena S1 dan S2 dapat ditempuh dalam waktu 5 tahun saja (teorinya sih kaya gitu, tapi praktiknya banyak mahasiswa yang gugur di tengah jalan karena berbagai alasan klasik dunia perkampusan). Singkat cerita, saat ini gue aja nggak tahu bagaimana tepatnya status gue di kampus. Di pihak A, gue dibilang semester 4 yang berarti gue masih wajar ada di  dalam tahap nyusun proposal tesis, sedangkan di pihak B, gue dinyatakan sebagai mahasiswa semester 6 yang seharusnya udah dapat surat peringatan karena belum lulus-lulus (tertawa getir). Jadi, gue pasrah, hahaha. Gue terjebak sistem (atau kayanya memang begitu adanya). Jadilah gue merelakan diri mempunyai kepribadian ganda di kampus. It’s fun though. Tapi, kalau ada yang tanya, gue selalu jawab kalau gue masih semester 4, hihihi

            Selama gue kuliah hampir 6 tahun ini, seringkali gue merasa di antara dua dunia *nah. Dulu waktu S1, gue takut lulus telat, terlena arus peradaban kampus (gue anaknya suka ikut-ikutan soalnya, hehe). Akhirnya, gue memutuskan buat ikut program Fast track dengan harapan dalam 5 tahun gue udah lulus master di saat banyak mahasiswa lain yang masih berjuang keras buat lulus S1 (gue berusaha membangun sistem mitigasi dan adaptasi iklim kampus). Asli, gue selalu salut sama mahasiswa-mahasiswa kampus gue yang mayoritas rela banting tulang buat bikin skripsi yang berbobot. Padahal, buat nyusun skripsi yang berbobot butuh waktu yang nggak sedikit. Gue sendiri ngap-ngapan ngerjain skripsi di tengah kuliah S2 gue (secara gue juga kuliah S2 semester 1 di saat gue kuliah S1 semester 7 = overlapping). Untungnya, gue dulu termasuk anak sok-sokan rajin yang selalu ngambil sks maksimal di setiap semester, jadi di akhir ‘agak’ bisa bernafas. Seenggaknya di semester 8 tingkat S1, gue cuma harus kuliah semester 2 level S2 gue (yah, punten ini agak pabaliyeut ceritanya). Dan, alhamdulillah, gue emang lulus S1 tepat waktu. Merasa lega banget, tapi di sisi lain emang gue harus kerja ekstra sebagai konsekuensi program yang gue ikuti. 

Habis lulus S1, kehidupan gue nggak serta merta tenang. Selesai wisuda, gue udah harus mulai mikir : gue mau bikin tesis model apa ,nih. Nah lo, hahaha. Baru juga dapet ijazah  udah harus mulai mikir penelitian lagi (sempet agak nyesel juga sih waktu itu kenapa ikut Fast track, hehe). Akan tetapi karena satu, dua, tiga hal di tengah pengembaraan gue mencari persetujuan tentang kajian tesis, gue bermanuver dari mikirin tesis jadi mikirin hal lain. Walhasil, sampai semester 6 (menurut status gue di pihak B)  gue belum lulus, bahkan sempro (seminar proposal) pun belum (mamaaaa~~) Jadi, bisa dikatakan S1 gue mulus, sementara S2 gue? Kelulusan gue bahkan belum kecium baunya, hehehe.

Berbagai ceramah, ledekan, tuntutan, motivasi, dorongan, saran, dan kawan-kawan jadi makanan sehari-hari gue kalau lagi ngumpul di kampus, di tengah keluarga, atau bahkan waktu ketemu orang asing di angkutan umum. “Ok, makasih, doakan saja”, itu kalimat sakti gue yang selalu meluncur tatkala hayati merasa lelah diiringi senyum yang digariskan dengan seikhlas-ikhlasnya. Setahun yang lalu, gue udah menikmati uforia lulus tepat waktu di saat puluhan temen-temen seangkatan gue masih pada berjuang. Sementara saat ini, gue ikut-ikutan berjuang buat bisa lulus karena udah (hampir) melewati ambang batas normal masa studi program master. Ah, dinamika mahasiswa.... (mencoba nenangin diri sendiri sambil meringis menahan pedih, hahaha).

Ok, maaf, sejatinya gue bukan mau berkeluh kesah tentang kisah Fast track gue, hehe, tapi sesuatu yang lebih umum dari itu. Sebenernya gue cuman mau sharing aja sih, barangkali ada yang merasa sama kaya gue dan temen-temen gue lainnya yang sejenis sama gue (plis, jenis kaya gimana nih maksudnya *no offense loh). Maksudnya adalah mahasiswa telat lulus... Di sini gue bukan bermaksud menghakimi siapapun atau pihak manapun (kalau ada yang merasa seperti itu loh). Gue cuma berharap pandangan-pandangan kurang sedap terhadap mahasiswa-mahasiswa yang nggak lulus tepat waktu menjadi, yah, seenggaknya lebih melunak lah... (agak maksa sih, sebenernya *peace)

Jadi, setelah gue berada di dalam kondisi yang sama kaya judul tulisan ini - menjadi golongan mahasiswa yang nggak lulus tepat waktu - gue mulai mengerti seluk beluk kenapa fenomena ini kerapkali hadir, terutama di kampus-kampus besar ternama. Banyak faktor sih sebenarnya, baik internal maupun eksternal. Tapi gue mau ngebahas yang internal aja, salah satunya mahasiswa-mahasiswa yang ‘memilih’ buat lulus telat (soalnya ada juga yang dari faktor internal, tetapi nggak memilih buat mengalami hal itu. Misalnya, karena kurang menguasai topik penelitian sehingga harus belajar lebih lama). Alasannya? Ya karena mereka merasakan benefit menjadi mahasiswa, bukan sekedar lulus dapat titel.

Pada kasus gue yang udah terlambat setahun buat memulai proses penuntasan studi adalah dikarenakan gue merasa ‘agak napas’ itu tadi, hehe. Maksudnya, gue merasa punya ruang setelah setahun harus “nge-track” buat apa yang gue suka. Dan alhamdulillah, satu persatu kesempatan datang. Bahkan, gue akhirnya bisa mewujudkan mimpi terbesar gue sepanjang hidup, yaitu ke Jepang – dua kali dalam waktu kurang dari setengah tahun! Akhirnya, gue ketagihan buat terus aktif di berbagai kegiatan. Jatah kuliah yang sudah habis, membuat gue merasa bebas buat mengeksplor diri. Sehari-harinya, gue lebih banyak ngisi formulir-formulir camp, kegiatan internasional, volunteering, dan sebagainya dibandingkan nyari bahan tesis semacam jurnal, hehe. Dan alhamdulillah lagi, gue beberapa kali dapat kesempatan buat nambah skill Bahasa Inggris gue melalui beberapa acara internasional (yah walaupun sampai saat ini masih tetep jauh dari lancar). Kesempatan dan pengalaman yang udah gue idam-idamkan dari dulu (dulu setiap dateng di acara kampus, isinya cuma dengerin kisah senior-senior berprestasi yang bolak-balik ke luar negeri) satu persatu dihadiahkan Allah SWT. Gimana nggak galau? Hahaha. Gue yang harusnya fokus ke tesis, di sisi lain diberi jalan buat satu persatu mewujudkan mimpi. 

Gue punya alasan sendiri, sih, kenapa gue memilih begitu. Gue sadar, gue nggak punya pengalaman kerja apapun, bahkan pengalaman-pengalaman nyata menghadapi hal-hal yang terkait langsung sama studi formal gue (misalnya praktikum kalau di jurusan ilmu pasti). Kalau gue lulus gitu aja, gue mau gimana? Gue merasa cupu. Gue S2, terus cupu, kan nggak lucu. Itu aja yang gue khawatirkan. Gue mending agak telat lulus buat nyari pengalaman, jaringan, yang bisa memperkaya gue, memberi gue lebih banyak opsi buat satu pertanyaan,”abis lulus gue mau ngapain sih?”. Banyak kasus mahasiswa yang lulus akhirnya pada susah nyari kerjaan atau bingung mau berkarya apa karena pengalaman dan jaringannya sebatas ruang kelas. Dan mirisnya lagi, (dan ini gue baru membuktikan akhir-akhir ini) kalau temen-temen yang dulunya gue kenal sebagai orang-orang jenius, banyak yang sekarang tenggelam entah dimana (atau gue yang kurang update sama mereka ya?). Justru, teman-teman gue yang santai sama sekolah, mulai bermunculan dengan karyanya masing-masing, entah sebagai owner bimbingan belajar, buka toko reparasi, dan sebagainya yang menurut gue itu justru lebih keren karena mereka berani aksi dengan minat bakat mereka (gue lebih respek sama orang yang jujur sama minat bakatnya sendiri, daripada sekedar ada di zona aman atau kerja dapat gaji besar tapi batinnya merasa tersiksa karena nggak sesuai passion-nya, sekali lagi no offense loh. Orang kan punya kepentingannya masing-masing, gue paham :)).

Nah, nggak cuman gue ternyata. Banyak teman-teman gue lainnya yang sengaja menunda lulus buat nyari pengalaman tambahan. Gue kenal sama satu orang temen yang  bisa dikatakan kami punya start pengalaman yang hampir sama. Tapi sampai saat ini, dia belum lulus sarjana. Kaget? (kalo nggak sih syukur, hehe). Saat ini dia emang belum lulus, tapi bicara tentang pengalaman, gue berani jamin kalau pengalamannya jaaaauh lebih banyak daripada staf yang udah kerja selama 5 tahun. Jam terbangnya tinggi. Karena apa? Dia muda dan passionate. Itu aja. Kalau dia pekerja, gue nggak yakin dia bisa dapat ruang seluas itu kecuali pekerjaan dia memang mendukung buat bergerak sebebas yang dia mau. Tapi mahasiswa tingkat akhir itu beda. Kami punya status mahasiswa yang bisa masuk ke lini mana saja (Masyarakat? Oke. Pemerintah? Bisa. Perusahaan? Nggak akan dikira mata-mata). Dan yang penting, kami punya banyak waktu luang yang fleksibel buat diisi kegiatan apapun : magang, kerja sambilan, kerjain proyek, dagang. Status dan waktu. Itu adalah dua modal yang cuma dipunyai oleh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Jadilah, itu seperti surga buat menimba ilmu di luar kuliah (bagi yang berminat sejenis kami ini, sih, hehehe).

Temen gue yang satu lagi, berbulan-bulan nggak ketemu sang dosen karena dia sedang mengembangkan proyek drone karya anak bangsa. Dan hasilnya, ok punya! Gue bahkan hampir yakin para dosen pasti terkesima melihat hasil kerjanya. Gue juga bangga dan malah ngedukung dia buat lulus nanti dulu aja (siap-siap digaplok karena sebenernya mahasiswa yang telat lulus itu bikin akreditasi jurusan jelek, hehehe)

Yah, begitulah fenomena yang ada. Masih banyak kisah-kisah telat lulus lainnya yang dilatarbelakangi oleh kesadaran dan kesengajaan. Tapi sebenernya, sebagian besar semua itu udah diperhitungkan. Di sini, gue nggak ngebahas yang telat lulus karena kerja. Kenapa? Karena kerja itu beda. Kerja itu insentifnya uang, bukan pengembangan diri semata, bukan ilmu sama pengalaman doang. Jadi, menurut gue selama penundaan itu diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan produktif, why not? Asal, kita tahu kapan harus fokus buat penuntasan studi. Uang kuliah kan juga nggak gratis kalau terus molor, ya, sis? Hehehe.

Dunia luar kampus, pasca lulus, kabarnya “keras” (gue juga agak jiper sebenernya). Jadi, semakin banyak kita punya bekal pengalaman, semakin tinggi daya survive kita. Itu yang gue percaya (lagi-lagi gue membangun sistem mitigasi dan adaptasi iklim pasca kampus). Nah, gitu aja, sih. Gue yakin setiap orang juga pasti punya pendapatnya masing-masing. Di kesempatan ini, gue cuma pengen berbagi kalau nggak selamanya telat lulus itu nggak ada manfaatnya. Mencoba mencari tahu apa alasannya itu lebih bijak daripada langsung menghakimi, bukan begitu? Akhir kata, semoga bermanfaat.

Salam pemuda! Salam mahasiswa! Salam generasi Indonesia!




Tidak ada komentar: