Minggu, 03 Januari 2016

Edgar Faure, C.P Snow dan Satu Obrolan Utopia

KAMI, 18 Februari 1970


Mungkin karena tertelan oleh aksi-aksi mahasiswa, kedatangan Edgar Faure tempo hari nampaknya tidak terlalu banyak mendapatkan publikasi dan perhatian orang. Selain beberapa berita di koran-koran yang terpenting, saya tidak ketemu dengan banyak komentar atau ulasan tentang apa yang monsieur Faure lemparkan ke tengah-tengah kita. Padahal kritik dan gagasannya tentang sistem universitas cukup provokatif untuk kita renungkan. Dari guntingan berita yang bisa kita baca, Faure berpendapat bahwa sistem universitas di Eropa, sebagai warisan abad pertengahan, sudah terlalu kuno. Universitas sudah terlalu lama dikotak-kotakkan dalam benteng-benteng yang berwujud fakultas. Menurut dia sekarang bukan lagi masanya orang mesti dipisah-pisahkan oleh fakultas-fakultas yang secara ketat mewakili satu cabang ilmu. Mereka mesti dibiasakan menjelajahi berbagai cabang ilmu.

Kritik Faure ini mengingatkan saya akan buku C.P. Snow Two Cultures yang terbit kira-kira hampir sepuluh tahun yang lalu. Snow mengeluh dan mengkhawatirkan bahwa kecenderungan spesialisasi dari abad modern ikut mengotakkan manusia-manusia dan mengisolirnya. Sebagai sarjana ilmu alam dan novelis nampaknya Snow makin sulit saja berkomunikasi dengan teman-teman sejawatnya. Dengan teman-teman sejawat di bidang ilmu alam dia tidak bisa berkomunikasi secara cerdas tentang kesusastraan, sedang dengan kawan-kawannya novelis nampaknya dia juga susah berbicara tentang gejala-gejala alam secara ilmiah. Maka Snow bercerita kepada kita bagaimana dunia noneksakta dan dunia eksakta makin terpisah jauh karena kecenderungan spesialisasi dari abad modern telah membuat profesi-profesi yang terpisah-pisah itu tidak berbicara satu sama lainnya.

Apakah kekhawatiran-kekhawatiran Faure dan Snow itu sama sekali asing bagi kita di sini? Saya kira tidak. Orang seperti Notonagoro yang pada tahun limapuluhan menjadi motor penggerak universitas Gajah Mada, pernah menyatakan kekhawatiran yang mirip dan mencoba mengatasinya dengan memperkenalkan sistim studium generale filsafat dan asas-asas sosiologi. Kalau tidak salah juga sedang disiapkan studium generale di bidang-bidang lain seperti biologi dan lain-lainnya. Credonya tempo hari, kalau tidak salah, adalah membantu manusia bulat yang susila, cerdas, dan cakap.

Kebulatan adalah titik berat yang banyak diletakkan oleh pendidik-pendidik Gajah Mada. Sardjito Notonagoro dan Sigit antara lain nama-nama yang pada waktu itu banyak menentukan dasar pendidikan universitas itu. Bahwa sistem studium generale itu kemudian gagal karena kurang cermat dan cakap dilaksanakan tidak mengurangi kenyataan bahwa suatu dasar pemikiran yang ingin mencegah kekeringan spesialisasi pernah dicoba di salah satu universitas kita yang terpenting.

Dan kasus seperti yang diceritakan Snow dalam esainya itu bagaimana? Saya kira itu juga berserakan di sekitar kita. Saya kira tidak terlalu banyak dokter-dokter dan insinyur-insinyur kita yang tahu karya Pramudya Ananta Tur atau Chairil Anwar, bahkan Rendra. Paling-paling beberapa catchphrases yang terlengket tentang mereka yang akan teringat. Kata-kata seperti “Pulau Buru”, “binatang jalang” atau “schizophrenia bip-bop”. Begitu juga sebaliknya. Berapa banyak dari sarjana sastra, sarjana hukum dan ekonomi, seniman-seniman yang tahu tentang prinsip dasar Comsat yang sekarang sudah ada stasiunnya di Jatiluhur, atau kemajuan penelitian terakhir tentang penyakit kanker? Saya kira sama tidak banyaknya dengan dokter-dokter dan insinyur-insinyur yang illaterate itu.

Lalu bagaimana?

Kenyataan pertama, universitas-universitas kita memang nampaknya untuk sementara masih akan terkotak-kotak dalam benteng-benteng fakultas. Dan kenyataan kedua, sarjana-sarjana kita untuk sementara juga masih akan terkotak dalam isolasi profesi mereka. Meruntuhkan tembok-tembok  benteng fakultas tidak gampang, dan yang lebih penting, sangat mahal. Menjebol cordon sanitaire instalasi profesi juga membutuhkan prasarana-prasarana mental tertentu yang tidak gampang dan, sekali lagi, juga mahal. Sementara itu para sarjana, sama dengan rekan-rekan mereka di bidang lain, masih terus bergumul dengan sembilan bahan pokok. Sementara sarjana dan pemikir pendidikan masih lebih tertarik untuk mengisi Permen 22 daripada mengisi prasaranan pendidikan, terus bagaimana?

Dicari cara yang paling mungkin dan yang paling murah. Dan yang paling menarik. Dan yang paling 

Di dalam universitas mungkin bentuknya seminar-seminar interdisipliner yang diharuskan. Untuk sementara bisa dibatasi interdisiplin dalam kelompok dulu. Umpamanya dalam kelompok ilmu-ilmu sosial atau sciences. Mahasiswa diharuskan berpartisipasi penuh dan membuat karangan-karangan pendek.

Partisipasi dan karangan akan dinilai sama tinggi. Mungkin untuk negara kita, untuk sementara urutan penilaian mahasiswa bisa agak digeser sedikit ke arah kegairahan, keberanian mengutarakan, orisinalitas pengutaraan dan nilai ilmiah pengutaraan.

Bila ini sudah bisa dilaksanakan bisa dicoba kombinasi seminar antar kelompok disiplin. Misalnya antar kelompok ilmu sosial dengan kelompok ilmu sasatra. Kunci pertama untuk suksesnya seminar yang demikian adalah organisator dan koordinator seminar itu.

Dia mesti penuh imajinasi dan antusiasme. Kemudian ausdauer dan antusiasme yang konstan untuk meneruskan.

Resep utopis untuk permulaan dari usaha penjelajahan antar ilmu? Don Kisot yang sedang menyiapkan tombaknya untuk menyerang kincir angin?

Ausdauer + Antusiasme + Imajinasi = Gaji Sarjana Rp. 100.000,-

Antusiasme + Keberanian + Orisinalitas + Keilmiahan Mahasiswa = Prasarana Pendidikan + Uang Saku Cukup. Anymore question? Astagfirullah!

Saya kira saya cuma mengusulkan : bersama pelita, bersama pemilu, bersama Permen 22, bersama pengelompokan partai, masih bisa juga dibicarakan yang lain-lain seperti universitas, para sarjana, para mahasiswa dan sebagainya itu.



(Ditulis ulang dari buku : Dialog oleh Umar Kayam. Diterbitkan tahun 2005. Disunting oleh Mikael Johani)

Tidak ada komentar: