Rabu, 24 Juni 2015

Sekolah Alam Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta - Sekolah itu juga tentang kehidupan

Sumber : https://salamjogja.wordpress.com/2013/05/13/melihat-aksi-menggali-potensi/

Sekolah telah menjadi bagian penting dalam melaksanakan transfer pengetahuan, ilmu, dari satu pihak kepada pihak yang lain - pendidikan. Pengetahuan merupakan hal yang sangat mendasar bagi manusia untuk dapat survive menjalani kehidupannya. Dalam agama Islam pun, pengetahuan memiliki tempat yang istimewa karena menjadi salah satu cara Allah SWT. meninggikan derajat manusia. Namun, faktanya saat ini jati diri pendidikan sendiri telah banyak terperangkap ke dalam sistem moneter. Pendidikan bukan lagi demi ilmu, tapi gengsi. Orientasi sebagian besar masyarakat kita kini terbentuk menjadi : sekolah untuk mendapat pekerjaan dan apresiasi materi.

Saat ini, banyak sekolah menawarkan sistem belajar yang 'diklaim' sebagai sistem yang kompetitif, berdaya saing, unggul, menjawab tantangan zaman, dan sebagainya dengan citra yang dibangun dan dipoles sedemikian rupa, kemudian 'dibanderol' dengan harga yang tidak murah. 
"Kualitas sebanding dengan harga", katanya.
Jadi, pendidikan itu barang dagangan - yang kualitasnya bisa dilihat dari harga *agaknya seperti itu yang ingin disampaikan. Padahal mungkin sejatinya, sistem yang ditawarkan itu lupa cara memanusiakan manusia. Memukul rata semua kompetensi anak didiknya sehingga terbentuk kelas-kelas : anak bodoh, anak rata-rata, dan anak pintar. Mungkin pula, sistem yang ditawarkan itu lupa mengenai apa itu proses sehingga semua anak didiknya dilihat hanya berdasarkan hasil nilai akhir, tanpa menganggap penting proses yang dihadapinya untuk mendapatkan sederetan angka itu. Yah, setidaknya begitulah sedikit yang saya tahu, yang saya pahami, dari sistem pendidikan secara umum di negeri saya tercinta ini. Kenyataan yang selalu membuat saya gelisah, resah..

----------*-*-

Sebuah cerita...

Di Yogyakarta, seorang ibu yang juga gelisah melihat keadaan sekitarnya, kemudian bergerak membangun sebuah sekolah yang menawarkan sistem pendidikan yang tidak biasa, “ora umum” kata orang Jawa – sekolah alam. Nama sekolah ini adalah Sanggar Anak Alam (SALAM) yang telah dirintis sejak tahun 1988 lalu. Sekolah ini merupakan sekolah non-formal sehingga sifatnya melengkapi apa yang telah disampaikan di sekolah. Tidak banyak memang murid yang bersekolah di sini. Tapi, tidak ada raut wajah yang lelah, jenuh, atau terbebani dari anak-anak yang bergabung di SALAM. Semuanya terlihat menikmati setiap proses belajar yang ditawarkan, ya, proses menjadi ruh dari sekolah alam ini.
Anak-anak diajak untuk mengenal lingkungan sekitarnya 
Sumber : http://lifepatch.org/SALAM
Bermula dari pendidikan dini, sekolah ini telah berkembang hingga tingkat SMP. Banyak anak-anak yang merasa tidak cocok dan merasa sangat berat menghadapi sekolah formal, memilih untuk meneruskan pendidikan di tempat. Bahkan, ada pula murid berkebutuhan khusus, seperti anak yang menderita down syndrome atau autisme yang juga bergabung di sini. Meskipun berupa sekolah non-formal, tetapi bukan berarti materi yang disampaikan sama sekali tidak berkaitan dengan materi di sekolah formal. Sekolah ini lebih menerapkan pada proses-proses sederhana sehari-hari yang kemudian dikaji dari perspektif multidisiplin sehingga anak-anak merasakan sendiri pengalaman menemukan ilmu, bukan menghafal ilmu, yang hanya dibacanya dari buku-buku. Misalnya, mereka membuat kelepon bersama. Dari proses membuat kelepon ini saja, mereka mendapatkan ilmu tentang perubahan bentuk, matematika dengan menjumlahkan bahan-bahan, ketelatenan, dan bekerja sama. Ilmu menjadi sesuatu yang dipahami, tidak hanya sekedar diingat.





Anak-anak sedang belajar memasak


Setiap kelas memiliki fasilitator-fasilitator. Mereka bertugas merangsang daya pikir dan kekritisan anak-anak. Mereka tidak menentukan apa yang ingin dipelajari anak-anak, bukan. Kelas adalah milik anak-anak. Baik anak-anak maupun fasilitator sama-sama saling belajar sebab anak-anak bebas untuk menanyakan, berpendapat, dan belajar apa pun. Anak-anak dibebaskan untuk mengeksplorasi lingkungannya, diberikan ruang seluas-luasnya untuk menemukan pengetahuan. Bahkan, orang tua juga dilibatkan dalam kegiatan anak pada tingkat pendidikan dini di sekolah untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam memantau tumbuh kembang anaknya. Para orang tua merasa hal itu sangat baik karena sejatinya kewajiban orang tua bukan hanya mengantar dan menjemput anak sekolah, melainkan juga mendampingi proses belajarnya.


Fasilitator sedang membahas apa yang baru saja mereka kerjakan bersama-sama. Fasilitator hanya bertugas memancing dan merangsang pemikiran anak-anak, bukan mendikte apa yang harus dipelajari anak-anak. Anak-anak bebas menanyakan pengetahuan apa pun yang ingin mereka ketahui. 


Sumber : http://www.langitperempuan.com/sri-wahyaningsih-rintis-sekolah-terbuka-berbasis-alam/

Kasih sayang adalah dasar dari pendidikan yang memanusiakan manusia. Hal tersebut menjadi pedoman dalam melaksanakan pendidikan di Sekolah SALAM ini. Para pendidik di sini memahami benar pentingnya menghormati setiap karakter yang ada. Alasan mengapa pendiri menerapkan sistem sekolah seperti itu adalah karena menurut beliau buku tidak menyediakan semua apa yang dibutuhkan oleh anak. Terkadang kasus yang dibahas di buku tidak relevan dengan apa yang ada di sekitar anak sehingga anak hanya menghafal. Oleh karena itu di Sekolah SALAM, anak diberi kesempatan untuk belajar dari apa yang ada di sekitarnya. Saya menyukai semangat salah seorang fasilitator di sini yang mengatakan bahwa motto-nya adalah : setiap hari adalah pengalaman pertama. Beliau berpedoman demikian untuk tetap menjaga spiritnya, antuasiasmenya, sehingga setiap hari menjadi berkesan layaknya setiap pengalaman pertama. Such a nice quote, right!  :D

Selain sistem belajar yang mengutamakan proses dan kebebasan berpikir, Sekolah SALAM juga mengadakan pameran karya anak-anak setiap beberapa bulan sekali. Hal ini untuk mengembangkan rasa percaya diri anak dan juga memberikan apresiasi terhadap hasil karya mereka. Terdapat pula pameran produk-produk lokal untuk ikut mengangkat perekonomian lokal dan menjadi peluang bisnis bagi para pengusaha setempat.

Nah, sekarang pertanyaannya apakah sekolah ini berbayar ataukah gratis?

Sekolah ini berbayar, kawan-kawan yang baik hati ^^ Hanya saja, jika terdapat anak didik yang tidak mampu, maka akan dibantu dicarikan jalan keluar, misalnya melalui pencarian orang tua asuh. Jadi tidak usah takut, bantuan akan selalu diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan, insyaAllah :)

Well, saya sangat mengapresiasi keberadaan Sekolah SALAM ini. Kesediannya menghargai kenyataan bahwa setiap individu unik yang jarang ditemukan pada sekolah-sekolah formal. Ya, anak-anak yang menyukai kompetisi mungkin tidak akan betah berada di sekolah seperti ini. Sebagian besar sekolah formal berorientasi untuk menciptakan individu-individu yang seragam dan mendorong kompetisi. Menurut saya, hal itu adalah suatu bentuk pengungkungan pemikiran (dan saya mengalaminya hingga jenjang pendidikan saya saat ini). Individu itu unik, berbeda setiap orangnya, masing-masing memiliki karakter. Saat ini, sebagian besar sistem sekolah adalah berusaha untuk mencetak orang dengan pemikiran yang sama. Bagaimana pelangi akan menjadi indah jika warnanya hanya satu, bukan? Ya, berbeda itu bukan suatu yang buruk. Individu berbeda untuk saling mengisi, untuk saling bersinergi. Semoga, pendidikan di Indonesia semakin baik di masa mendatang. Salam anak Indonesia!



Diinterpretasi secara bebas berdasarkan : Acara “Lentera Indonesia” oleh Net.TV edisi Minggu, 10 Mei 2015

Tidak ada komentar: