Rabu, 17 Juni 2015

Salah Harap

Sepasang mata menatap lurus udara kosong di hadapannya, seolah apa yang dicarinya akan keluar dari kehampaan dengan bunyi 'pop' pelan. 
"Bodoh... seharusnya tidak aku katakan selugas itu kemarin", desahnya. 
Kusut masai hatinya hanya terlukis samar-samar di wajah yang pandai menyimpan perasaan itu. Keberpihakan menjadi hal yang ditunggu. Namun, seperti ilusi, halusinasi, hal itu menjadi racun yang perlahan meretas sendi-sendi kebahagiaan dan tawanya. 
"Bodohnya...", lagi-lagi dia mendengus ke dirinya sendiri. 

Demi sebuah waktu yang tak mungkin kembali. Demi sebuah pertemuan yang mungkin tak akan pernah ada lagi. Kegelisahan, murka, sendu, rasa kehilangan, keinginan, pengharapan, dan semua yang mengendap tebal di dasar waktu mendapat energi untuk teraduk, mengalir kembali ke permukaan. Mulut dan mata menjadi pintu keluar. Isak pelan berpadu dengan kalimat-kalimat yang terpatah-patah, tersaruk-saruk saat diucapkan di tengah-tengah. Memang, tidak ada lagi waktu. Dan dia tahu pasti itu. Maka, eksekusi tiba-tiba malam sebelumnya dilakukan demi mencegah sebuah sesak sesal di kemudian hari. 
"Hanya sekali ini dan selesailah hutangku pada diriku sendiri", putusnya dalam hati. 

Tak disangka, sebuah kesalahan terjadi. Harap tiba-tiba menyusup di hati yang sedang lemah. Mengaburkan tujuan yang tadinya berwarna putih terang, menjadi kelabu tersaput hitam pengharapan. Perlahan menjelma menjadi asap yang kian lama kian pekat dan menyesakkan. 
"Itu salah. Benar-benar salah. Menjatuhkan diri ke lubang yang sama, seperti keledai kah aku? Bahkan keledai saja masih bisa belajar untuk tidak jatuh ke lubang yang sama. Tidakkah sakitnya waktu itu cukup untuk menamparku sadar dan berhenti dari kekonyolanku?", sesalnya. 

Dia tahu bahwa yang sedang ditunggu kini tengah sibuk mencari. Mencari kepingan hatinya yang tersesat di antara ruang waktu. 
"Hei, kau masih saja berharap untuk menemukan petunjuk, padahal yang kau lihat adalah jalan keluar? Tidakkah kau lihat jalan keluar? Aku?", bisiknya pelan disinggungi senyum getir. 
Detik bergulir dan segalanya masih sama. Gambar itu, cincin itu, masih tak bergeming dari tempatnya. 
"Wahai Adam, apa yang tengah kau lakukan? Sebegitu tenggelamkah dirimu dalam kebimbangan? Tidakkah kau segera menegakkan pandanganmu dan mengambil langkah baru? Ini atau itu. Selesai', dia membatin gemas.

Tercekat di tengah sunyi yang menggantung. 
"Selesai sudah, aku telah salah mengharap pada manusia berhati lemah. Yang Maha Menata lebih tahu. Ku minta saja pada-Nya. Selesai perkara. Tak perlu lagi aku menanti tak tentu arah pula. Menunggu yang Dia tentukan dan semuanya akan sempurna", geramnya dalam tengah malam. 

"Ku berikan sayap pada hatiku agar ia terbang bebas, lepas
Aku tidak lagi menunggu apapun atasmu, Wahai Adam
Karena yang harus pergi akan pergi
Yang harus datang akan datang
Dan yang harus kembali pasti akan kembali
Wahai Adam, temukan apa yang kau cari
Kau bebas, aku bebas, Yang Maha Menata yang akan mengatur segalanya, dengan sempurna"

Dan dia kemudian terpejam, berselimut sajak. Terbenam dalam lelah. Berharap cahaya pertama surya esok akan membasuh jiwanya, menguatkan hatinya yang kian melemah. 

Tidak ada komentar: