Senin, 13 April 2015

Pinocchio (Drama Korea) - Review

Pinocchio (Drama Korea) - Review

Kali ini saya ingin memberi opini tentang sebuah drama Korea yang baru saja selesai saya tuntaskan ^^ Berhubung ini adalah tulisan pertama saya tentang drama Korea, maka saya ingin menyampaikan prolog terlebih dahulu, ehem~

Seperti kita tahu, bahwa drama Korea memiliki beberapa golongan penggemar – ada yang sukaaa banget sampai update drama terbaru, ada yang suka dalam taraf sedang, dan ada yang sama sekali antipati dengan yang namanya drama Korea dengan berbagai alasan. Well, saya termasuk kategori penggemar kedua – sedang. Bagi saya yang memang penyuka film dan drama, selama saya mendapatkan pelajaran dari apa yang saya tonton, itu tidak masalah. Terutama pesan moral yang disampaikan dari setiap drama atau film. Jadi, karena sikap perfeksionis saya itu, saya senang mereview apa saja yang telah saya tonton atau baca, hehe. 


Pinocchio – menurut saya adalah salah satu drama Korea yang berhasil menciptakan karakter dan warna tersendiri di tengah persaingan ketat dunia hiburan Korea. Dengan mengusung latar dunia reporter dan media massa, secara lugas mampu memberikan gambaran kepada kita – masyarakat awam – mengenai bagaimana dunia media secara umum dan secara khusus di Korea Selatan.

Menurut saya, alur ceritanya tidak terlalu rumit dan tidak banyak twist besar. Saya juga merasa drama ini sedikit mirip dengan drama lain – You’re All Surrounded – drama tentang detektif polisi dengan pemeran utama Lee Seung Gi. Kesamaannya terletak pada beberapa hal, yaitu : 1) tokoh utama adalah laki – laki yang memiliki luka masa lalu dan akhirnya menjadi ‘sesuatu’ untuk bisa membalas dendam, 2) tokoh utama menyembunyikan identitas dan diadopsi, 3) terkait dengan kasus yang terjadi di masa lalu, 4) tokoh utama memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Hehehe, meski sedikit mirip dan saya lebih terkesan dengan keseluruhan You’re All Surrounded karena twist yang lebih ‘wow’, tapi saya tetap suka drama ini. Dibandingkan drama-drama lawas di bawah tahun 2012 yang berlatar balas dendam, drama ini masih tergolong ringan dan tidak terlalu dark seperti A Love to Kill atau Bad Guy.

Drama ini lebih banyak memberikan pesan moral yang baik secara lugas tanpa dramatisasi scene yang ‘gelap’ (kita tidak perlu berderai air mata dan nyesek untuk memahami pesan moralnya, hehe) sehingga alasan inilah yang membuat saya merekomendasikannya. Dari segi pemain, Pinocchio sangat beruntung didukung oleh aktor-aktor bertalenta yang sedang naik daun. Saya penasaran, kapan Park Shin Hye akan memerankan karakter di sebuah saeguk, ya? Karena karakter yang diperankannya selama ini masih kurang menantang, cenderung sama – gadis yang ceria dan cerewet, hehe. Dalam drama ini, Lee Yoo Bi (Yoon Yoo Rae) justru lebih menarik. Sebelumnya, dia berperan di Gu Family Book sebagai Choi Chung Jo - seorang gadis bangsawan terhormat, tetapi bernasib malang karena harus berubah status menjadi gisaeng. Karakternya yang ceria, perlahan menjadi gelap dan dingin. Namun di drama ini, dia sangat konyol, narsis, centil, dan blak-blakan, hahaha, sangat bertolak belakang. Ya, saeguk memang cenderung lebih banyak menawarkan peran menantang karena lebih membutuhkan permainan watak ^^


Ini adalah pemain serial Pinocchio :) 


Nah, berikut beberapa pelajaran yang bisa saya dapat dari menuntaskan drama ini, antara lain :



  • Siapapun bisa menjadi keluarga

Saya sering menonton drama, entah Jepang atau Korea, bahwa,”keluarga bukan hanya tentang darah yang mengalir dalam diri kita, tetapi adalah hubungan antara orang yang saling menyayangi, mengasihi, dan melindungi”. Yeps, meskipun Ki Ha Myung diadopsi, dia diperlakukan dengan sangat baik oleh ayahnya

  • Bagaimanapun pahit dan berat konsekuensinya, kebenaran harus diungkapkan dengan cara yang terbaik

Saya sangat ingat dengan kalimat Choi Dal Po.

”Kebahagian yang diperoleh dari rasa takut mengungkapkan kebenaran, suatu saat nanti pasti akan berakhir" 

  •  Dedikasi pada pekerjaan

Ketika pekerjaan yang menuntut obyektivitas di atas segalanya sedangkan diri kita menuntut subyektif, apa yang akan terjadi? Drama ini mengajarkan hal itu. Bahwa bagaimanapun terlukanya jiwa, dalamnya emosi, dan panasnya hati, pikiran harus tetap dingin dan obyektif. Berpikir dari segala sisi dan mempertimbangkan setiap konsekuensi. Kakak Ki Ha Myung yang pernah melewati batas dan akhirnya menjadi pembunuh memuji adiknya yang punya pengendalian diri yang sangat tinggi,

”Kau panas di sini (hati), tapi dingin di sini (pikiran)” 

sambil mengungkapkannya di balik kaca temu di penjara. Karakter Choi Dal Po di sini benar-benar dapat dijadikan panutan, bagaimana dia mengolah rasa dendamnya menjadi sesuatu yang justru memberi inspirasi dan membuat orang-orang di sekitarnya yang semula menjalani hidup dengan mengingkari nurani, kembali berani untuk bersikap jujur pada dirinya sendiri.

  • Belajar dari orang tua

Choi In Ha mengundurkan diri setelah berusaha mengungkapkan kebenaran. Dia merasa sebagai penyebar isu sehingga memutuskan untuk pergi, sama seperti yang ayahnya lakukan dahulu. Akan tetapi, hal ini membuat Dal Po marah dan menyuruh In Ha membatalkan pengunduran dirinya. Dia kemudian bertanya pada ayahnya apakah beliau menyesal telah mengatakan kebenaran.Ayahnya menjawab,

”Ya, aku menyesal, bukan karena aku telah mengatakan kebenaran, tapi karena aku tidak lebih lama bertahan. Sebusuk apa pun tempat itu, aku seharusnya bisa bertahan. Aku menyesal kenapa dulu tidak melakukannya”. 

Well, In Ha mendapat pencerahan dan langsung kembali bekerja. Hal ini mengajarkan, bahwa belajar dari pengalaman orang tua sangat penting karena hal itu dapat merubah arah hidup kita. Saya menjadi ingat sebuah kalimat bijak,”kita tidak punya cukup waktu untuk mengalami semua kesalahan kemudian belajar darinya, maka belajarlah dari pengalaman kesalahan orang lain”.

  • Perkembangan karakter

Twist yang sama dengan drama You’re All Surrounded karena seseorang yang dianggap sebagai musuhnya, bukanlah musuh yang sebenarnya melainkan justru pihak yang dimanfaatkan. Karakter Song Cha Ok – wanita yang terlihat menjadi musuh besar di awal cerita, ternyata hanyalah sebuah boneka. Seseorang yang memiliki talenta yang hebat dalam menjadi seorang wartawan, selama bertahun-tahun memilih hidup dalam bayang-bayang dan mengabaikan nuraninya. Kehadiran In Ha dan Dal Po membuatnya sadar dan kembali berani mengikuti kata hatinya. Perlahan, karakter ini berubah dari sosok yang kejam dan menyebalkan, menjadi seseorang karismatik yang berjiwa besar. Sebuah contoh perkembangan karakter yang baik dalam sebuah drama :)

Wow, panjang ya, haha, mianhae cingudeul

Overall, meskipun drama ini bukanlah drama paling berkesan yang saya tonton, tetapi ini adalah salah satu drama yang layak tonton. Saya sangat suka karakter Choi Dal Po a.k.a Ki Ha Myung (akhirnya menemukan my perfect man-role XD) di drama ini. Dedikasinya pada pekerjaan, kasih sayangnya pada keluarga, dan caranya mencintai In Ha, membuat karakter-karakter lain yang baru-baru ini saya kenal menguap, haha. Karakternya pas, itu saja. Seperti seorang Korea yang saya kenal, hahaha *ups, skip.

Baiklah, saya rasa review saya sudah lebih dari cukup (karena panjaang sekali, miaaan ><). Semoga bermanfaat. Ttabwayo ~ Gamsahae cingu-ya ~~

 

 

1 komentar:

anik ulvia mengatakan...

daebak review nyaa kakkk... aku satu episode lagi hehe