Senin, 02 Maret 2015

Pencerahan Tanpa Rencana



Malam ini kembali tidak berjalan mulus sesuai rencana. Bussiness plan yang seharusnya mulai untuk diriset, malah berakhir dengan menonton Youtube, hehe. Kembali tergoda untuk mengklik video-video wanita tangguh idola saya, Riyanni Djangkaru. Daaan, dalam sebulan terakhir ini, saya juga menemukan idola satu lagi! Yeps, as everyone guess, Medina Kamil. Kedua wanita ini, selalu menarik untuk diikuti gerak geriknya, baik itu gayanya yang khas, aktivitasnya, dan pemikiran-pemikiran beliau berdua.
            Satu video tentang budidaya bunga matahari di Indonesia membuat saya berlanjut nyangkruk di video-video beliau berdua, baik tentang liputan acara petualangan maupun talkshow dan interview mereka di berbagai acara stasiun televisi. Saya sangat menyukai keduanya. Mungkin banyak orang setuju dengan pendapat saya bahwa mereka perempuan-perempuan yang tangguh secara fisik dan mental, humble, jujur menjadi diri sendiri, berdedikasi, dan smart. Keduanya menjadi lead role saya sebagai seorang perempuan yang notabene memiliki passion yang sama, yakni menjelajah alam bebas.
            Sejak sebulan yang lalu, saya mulai menemukan apa yang menjadi bara api dalam hidup saya yang selama saya kuliah ini meredup, bahkan sepertinya hampir padam, ---berpetualang. Berkunjung ke alam bebas, bahkan hanya sekedar duduk di bawah pohon rindang atau duduk di atas rerumputan adalah hal yang sangat menyenangkan dan mewah untuk saya dibandingkan jalan-jalan ke mall megah. Saya merasa, alam membuat saya bisa menjadi lebih jujur, membuat saya lebih mudah menjadi diri saya sendiri. Kemunculan api ini didorong oleh komentar seorang sahabat saya, yang selalu mendukung saya, bahwa saya mumpuni di bidang ini. “Ah, pendapat yang terlalu berlebihan”, pikir saya. Tapi, itu pula yang membuat saya tersadar, bahwa memang dengan menjelajah alam bebas, saya merasa hidup, saya merasa bahagia. I do feel alive!
Perjalanan ke Sulawesi Selatan selama seminggu di awal Februari ini berarti banyak untuk saya. Bukan hanya sekedar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan jiwa, penemuan jati diri. Berawal dari obrolan iseng untuk menginjakkan kaki di tanah Sulawesi bersama teman-teman sekelas saya. Obrolan itu menjadi kenyataan tatkala sebuah kesempatan datang diiringi kenekatan dan kenyataan yang menuntut untuk sejenak menenangkan diri (move on, hahaha). Saya menemukan kembali kepingan yang hilang dari diri saya. Saya menemukan jejak kehidupan yang semula hilang dan membuat saya kehilangan arah, akan melangkah kemanakah saya. Saya mendapati jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup saya tentang : siapakah saya? Apakah yang sebenarnya yang saya mau? Sebagai apa saya akan hidup? Peran apa yang ingin saya ambil dalam kehidupan ini? Apakah impian-impian saya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang terkadang membuat saya tercenung berhari-hari jika saya terlalu serius memikirkannya. Dan, dalam perjalanan singkat ini mengajari saya banyak hal, terutama dalam mengenali diri saya secara lebih utuh.
Lantas, apa kaitannya dengan video-video yang baru saja saya tonton?
Saya semakin tahu, bahwa apa yang saya temukan mengenai diri saya bukanlah hal yang mudah. Menjadi seorang petualang, traveller, adventurer atau apa sajalah nama yang disematkan, bukanlah sebuah pekerjaan senang-senang tanpa resiko. Cerita demi cerita yang diungkapkan oleh lead role saya tersebut menunjukkan bahwa this path is not so easy as we see at the television. Mereka cedera, Medina terdampar, Riyanni patah tulang. Semuanya sedikit menggoda rasa takut saya timbul. Well, jujur saya jadi mulai berpikir ulang, “Is it really my choice?”. Tetapi, kemudian saya mengerti, tiada hal tanpa resiko di dunia ini. Tidak satupun. Mereka bahagia dengan hal yang mereka lakukan meskipun peluh mengalir, air mata berderai, atau bahkan bersisihan dengan maut. Sebuah pertaruhan selalu mengiringi pilihan. Dan, saya tidak ingin menjadi pengecut dalam panggung hidup saya sendiri. Bukankah tidak ada yang lebih penting dari memaknai hidup, usia? Sebuah anugerah dan nikmat yang tiada tara ketika kita bisa menemukan bagian terbaik dari diri kita, sehingga dapat mengeluarkan yang terbaik pula untuk sekitar kita. Penemuan dan pemahaman diri menjadi penting. Keberanian untuk tetap berdiri di jalan yang dipercayai dan diyakini menjadi mutlak. Dengan niatan memberikan yang terbaik, bermanfaat bagi umat, saya percaya, jalan akan selalu ada. Ya, saya akan berani. Saya akan berani membiarkan diri saya bahagia dan memberi arti.

Tidak ada komentar: