Selasa, 07 Oktober 2014

INSECURE?



Apa kamu merasa sendirian padahal kamu berada di tengah keramaian?
Apa kamu merasa kesepian di tengah hingar bingar?
Apa kamu merasa sulit untuk merasa bahagia?
Kamu merasa lebih nyaman sendiri, meskipun kamu tahu hal itu tidak baik. Tapi kamu memang merasa butuh waktu untuk sendiri. Kamu merasa lelah untuk berusaha tersenyum di depan orang lain. Kau merasa frustasi menapaki jalan menuju impian-impian yang kau tuliskan di kertas putih itu.
Terkadang saya pun merasa begitu. Merasa asing dengan diri saya sendiri. Merasa bahwa diri saya ini hanyalah butiran debu yang terbang begitu saja tertiup angin, tidak berarti.

Itu keadaan insecure, singkatnya kondisi diri yang sedang tidak nyaman sehingga  kehilangan semangat untuk bergerak.

Apa yang salah?
Kalau saya boleh menerka, ada sesuatu yang sedang kita cari, tapi kita tidak tahu itu apa. Ada harapan yang tidak terpenuhi, perasaan kecewa, terluka. Ada sesuatu yang sedang kita tuju, tapi tidak tahu kemana. Ada sesuatu yang belum selesai, tapi ragu apa yang telah kita mulai. Merasa tersesat, dan kehilangan arah. Bukan begitu?
Ya.. diam sejenak tidaklah salah. Untuk merenungkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mencari tanda untuk meneruskan perjalanan, mengamati jejak yang telah kita tinggalkan, atau sekedar menghela napas karena lelah. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk merasa lebih baik?

Jiwamu meminta waktu, maka berikan waktu
Kita bukan robot yang hanya perlu materi penggerak, lebih dari itu, kita memiliki jiwa yang kadang meskipun secara fisik kita merasa sehat tetapi sesungguhnya sedang lelah. Maka, layaknya tubuh, ketika jiwa lelah maka berikan waktu beristirahat.  

Beri asupan “gizi” bagi jiwa
Banyak orang yang menyarankan untuk refreshing ke alam, atau melakukan hobi yang disuka ketika jiwa mulai lelah. Jiwa yang mulai lelah biasa ditandai dengan menurunnya mood atau stres yang meningkat. Tapi jika saya boleh berpendapat, sejatinya kita butuh Tuhan lebih dari apapun. Dari buku yang pernah saya baca, stres tidak akan pernah dirasakan oleh manusia yang selalu bersyukur dan mendekatkan diri pada Tuhan, karena dia menyadari bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang direncanakan oleh Tuhan.
Seringkali jika saya stres, saya dan sahabat-sahabat saya pergi berkaraoke atau berkemah. Saya bahagia, ceria. Tetapi, setelah tiba di rumah, saya kembali merasa hampa. Setelah saya merenung, mungkin hal itu bukanlah hal yang sebenarnya saya butuhkan. Dan ketika saya mulai menambah ibadah, hati saya mulai membaik ‘dengan cara yang benar’, tidak hanya sesaat seperti saya menyanyi atau menikmati alam. Ternyata memang Tuhan, yang hakiki dapat menenteramkan jiwa :)

Mencoba keluar dari zona nyaman
Saya yakin, kamu dan saya banyak potensi. Kamu dan saya adalah orang hebat. Tapi potensi hanya akan tetap jadi potensi jika tanpa aksi. Secukupnya saja memberi waktu pada jiwa, karena jika terlalu lama, ini akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Waktu akan mengubah itu menjadi kebiasaan, seperti malas, penakut, yang tentu saja jangan sampai merajai diri kita.
Mencoba keluar kamar, rumah. Jauh dekat tidak masalah. Yang penting harus bergerak, berjalan, membuka diri pada dunia. Menyapa orang, tersenyum, memaksa diri untuk normal.

Pejamkan mata, dan mulai tuliskan apa yang ingin  dicapai
Saya yakin kamu punya banyak mimpi, saya juga. Menuliskannya adalah langkah awal membuatnya jadi kenyataan. Menuliskan impian, menuliskan cara mencapainya, kemudian meresapinya. Bayangkan kebahagiaan yang akan kamu capai jika kamu berhasil dan biarkan perasaan itu menguasai hatimu, kumpulkan, dan kunci sebagai semangat untuk gerakanmu selanjutnya.

Bantu orang lain
Ketika kita kehilangan makna bagi diri sendiri, seringkali kita menemukan makna setelah melakukan sesuatu untuk orang lain, sekecil apapun itu. Saya sering melakukannya. Saat saya merasa kosong, saya mencoba mencari kegiatan, misalnya dengan mendengarkan cerita teman saya. Biasanya, ketika kita sedang ‘’insecure’’ seperti itu, kita biasanya malas untuk berinteraksi dengan orang lain. Hati kita sensitif sehingga mudah sekali tersinggung atau mengabaikan. Tapi setelah cukup menyendiri, berinteraksi dengan orang lain akan membantu. Lakukan hal sederhana saja, misalnya menraktir teman jajanan favorit bersama. Rasakan dirimu akan membaik setelah melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah temanmu dan mendapat ucapan terima kasih yang tulus darinya. Trust me ^^ Seringkali dengan memberikan sesuatu yang bermakna kepada orang lain, kita akan menemukan makna diri kita sendiri. Karena sesungguhnya, kita sedang memancing makna itu muncul dari arah yang berbeda.

Temui orang-orang terkasih
Bercerita, jujur pada orang-orang terkasih yang dapat menerimamu apa adanya. Karena dari mereka, kita akan mendapat kejujuran. Kasih sayang yang tulus dari mereka akan memberikan kedamaian pada jiwa kita. Meskipun kita hanya punya satu sahabat saja, itu lebih baik daripada punya seribu teman yang hanya bertukar sapa. Peluk dia jika kamu bisa bertemu dengannya. Dengan tidak merasa sendirian, kita akan merasa lebih mudah melalui semuanya. Terlebih lagi doa kedua orang tua.

Tersenyumlah
Terakhir adalah, ayo tersenyum. Entah kenapa meskipun sulit, tapi setelah setengah hati mencoba menarik sudut-sudut mulut menjadi sebuah senyum, saya merasa lebih baik. Ada perasaan ringan yang menelusup perlahan. Tersenyum, pejamkan mata, ambil nafas panjang, dan berdoa “Aku pasti bisa Ya Allah, karena aku bersama-MU”. We'll feel better soon :)
Sedikit panjang memang, tapi semoga bisa membantu. Mungkin tidak banyak hal baru yang kamu temui tapi tenanglah kamu tidak sendirian. Sejak kecil saya sering menonton anime Jepang dan hal yang paling saya ingat adalah "Percaya pada dirimu. Kau pasti bisa"

Jya, arigatou gozaimashita ^^
Matta nee. GANBARE, TOMODACHITACHI ~ ~



Tidak ada komentar: